BAB 1
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Dikala zaman modernisasi saat ini, banyak orang yang beralih ke bidang Industri, di karenakan mendapatkan laba atau keuntungan yang bisa dibilang besar, padahal kalau di resapi, industri banyak nilai negatifnya yang dapat merugikan lingkungan hidup maupun kelangsungan hidup pada manusia. Ada usaha yang lebih menarik bersifat menghibur dan tidak begitu bahkan tidak merugikan lingkungan hidup, karena banyak sisi positifnya yaitu menanam dengan dengan usaha Perkebunan Pohon Pisang Jenis Pipit dan Kluthuk..
Di katakan menghibur karena di samping bisa mengisi waktu, juga bisa mengingat pada zaman dulu, bagaimana rasanya mencangkul, dan berkeringat sampai menyerupai mandi. Dan dikatakan tidak merugikan lingkungan hidup, karena justru kita merawat lingkungan hidup, di mana kita melakukan penanaman yang baik bagi lingkungan hidup.
Berkebun identik dengan menanam, metode menanam itu cocok sekali dengan wilayah yang agraris, hal itu juga bermanfaat bagi manusia dan kalau bisa mengembangkan dan mengelola dengan baik bisa menghasilkan nilai ekonomis, meskipun tidak seberapa di banding pada bidang industri. Sehubung dengan hal tersebut, dalam hal ini akan dibahas tentang keuntungan Berkebun pada Pohon Pisang Jenis Pipit dan Kluthuk.
B. Perumusan Masalah
a. Bagaimana berkebun pada pohon pisang jenis pipit dan kluthuk yang benar?
b. Apakah keuntungan dalam berkebun pada pohon pisang jenis pipit dan kluthuk?
c. Apakah kendala-kendala dalam berkebun pada pohon pisang jenis pipit dan kluthuk?
C. Tujuan Penulisan
Penulisan karya ilmiah dengan judul “Keuntungan Berkebun pada Pohon Pisang Jenis Pipit dan Kluthuk” di susun dengan tujuan :
a. Menerapkan pengetahuan dan teori ekonomi pada jenis usaha Keuntungan Berkebun pada Pohon Pisang Jenis Pipit dan Kluthuk.
b. Untuk meningkatkan pemahaman penulis pada jenis usaha Keuntungan Berkebun pada Pohon Pisang Jenis Pipit dan Kluthuk.
c. Sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas Ilmu Pengetahuan Alam.
D. Metode Penelitian
Karya ilmiah yang berjudul “Keuntungan Berkebun pada Pohon Pisang Jenis Pipit” menggunakan metode penelitian model study pustaka dan pengamatan langsung pada obyek penelitian.
E. Sistematika
Karya ilmiah berjudul “Keuntungan Berkebun pada Pohon Pisang Jenis Pipit dan Kluthuk” menggunakan sistematika sebagai berikut.
BAB I Pendahuluan
a. Latar Belakang
b. Rumusan Masalah
c. Tujuan Penulisan
d. Metode Penulisan
e. Sistematika
BAB II Kajian Pustaka
a. Keuntungan
b. Berkebun
c. Pohon pisang jenis pipit
d. Pohon pisang jenis kluthuk
BAB III Keuntungan Berkebun pada Pohon Pisang Jenis Pipit dan Kluthuk
a. Cara berkebun pada pohon pisang jenis pipit dan kluthuk yang benar
b. keuntungan dalam berkebun pada pohon pisang jenis pipit dan kluthuk
c. kendala-kendala dalam berkebun pada pohon pisang jenis pipit dan kluthuk
BAB IV Penutup
a. Simpulan
b. Saran
BAB II
Kajian Pustaka
A. Keuntungan
Sesuatu keadaan yang telah digariskan oleh Tuhan Yang Mahakuasa bagi perjalanan hidup seseorang, mujur atau mendapat suatu laba. Untung biasanya apabila pendapatan lebih besar dari pengeluaran.
Apabila modal akhir terganti atau dapat di kembalikan ataupun dapat lebih dari modal awal pada suatu usaha yang di jalani, maka orang yang mengadakan usaha tersebut mendapat keuntungan.
Jadi dapat di simpulkan :
Hasil Akhir > Dari pada modal awal => Untung
B. Berkebun
Berkebun dari kata Kebun, kebun merupakan suatu tempat atau lahan pada usaha perkebunan. Berkebun identik dengan kegiatan bertanam. Yaitu suatu kegiatan menanam suatu tanaman pada dataran tanah.
C. Pohon Pisang Pipit
Pohon adalah batang, tumbuh-tumbuhan yang besar, sedangkan pisang adalah mempunyai arti suatu nama pohon dan sekaligus buahnya. dan Pipit merupakan nama pisangnya tersebut.
D. Pohon Pisang Kluthuk
Pohon adalah batang, tumbuh-tumbuhan yang besar, sedangkan pisang adalah mempunyai arti suatu nama pohon dan sekaligus buahnya. dan Kluthuk merupakan nama pisangnya tersebut.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Cara berkebun pada pohon pisang jenis pipit dan kluthuk yang benar
Sejarah singkatnya, Pisang adalah tanaman buah berupa herba yang berasal dari kawasan di Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Tanaman ini kemudian menyebar ke Afrika (Madagaskar), Amerika Selatan dan Tengah. Di Jawa Barat, pisang disebut dengan Cau, di Jawa Tengah dan Jawa Timur dinamakan gedang.
1. Syarat Tumbuh :
Iklim tropis basah, lembab dan panas mendukung pertumbuhan pisang. Namun demikian pisang masih dapat tumbuh di daerah subtropis. Pada kondisi tanpa air, pisang masih tetap tumbuh karena air disuplai dari batangnya yang berair tetapi produksinya tidak dapat diharapkan. Tanaman pisang dapat tumbuh subur di daerah yang mempunyai ketinggian tidak lebih dari 1000 meter diatas permukaan air laut. Tanah yang cocok adalah tanah kaya humus. Tetapi jika terpaksa dapat juga ditanam ditanah kapur. Sedangkan iklim yang paling cocok adalah iklim tropis. Tanaman pisang banyak memerlukan sinar matahari, namun tanaman pisang juga tidak tahan kekeringan. Sebaliknya, juga tidak tahan air yang berlebihan. Angin dengan kecepatan tinggi seperti angin kumbang dapat merusak daun dan mempengaruhi pertumbuhan tanaman.
2. Pembibitan
Untuk mendapat tanaman pisang yang sehat serta buahnya besar-besar, kita perlu mempersiapkan bibit secara cermat. Ciri-ciri bibit yang baik adalah tinggi anaknya sekitar satu sanpai satu setengah meter, berumur empat sampai enam bulan, diambil dari pohon yang telah atau sedang berbuah, daunnya tidak terlalu lebar, dan tidak terserang penyakit. Anakan yang tingginya kurang dari satu meter pun dapat dipergunakan sebagai bibit, tetapi mempunyai kelemahan, yakni terlalu lama berbuah.
Pisang diperbanyak dengan cara vegetatif berupa tunas-tunas (anakan).
a. Persyaratan Bibit
Tinggi anakan yang dijadikan bibit adalah 1-1,5 m dengan lebar potongan umbi 15-20 cm. Anakan diambil dari pohon yang berbuah baik dan sehat. Tinggi bibit akan berpengaruh terhadap produksi pisang (jumlah sisir dalam tiap tandan). Bibit anakan ada dua jenis, anakan muda dan dewasa. Anakan dewasa lebih baik digunakan karena sudah mempunyai bakal bunga dan persediaan makanan di dalam bonggol sudah banyak. Penggunaan bibit yang berbentuk tombak (daun masih berbentuk seperti pedang, helai daun sempit) lebih diutamakan daripada bibit dengan daun yang lebar.
b. Penyiapan Benih
Bibit dapat dibeli dari daerah/tempat lain atau disediakan di kebun sendiri. Tanaman untuk bibit ditanam dengan jarak tanam agak rapat sekitar 2 x 2 m. Satu pohon induk dibiarkan memiliki tunas antara 7-9. Untuk menghindari terlalu banyaknya jumlah tunas anakan, dilakukan pemotongan/penjarangan tunas.
3. Pengolahan Media Tanam
a. Pembukaan Lahan
Pemilihan lahan harus mempertimbangkan aspek iklim, prasarana ekonomi dan letak pasar/industri pengolahan pisang, juga harus diperhatikan segi keamanan sosial. Untuk membuka lahan perkebunan pisang, dilakukan pembasmian gulma, rumput atau semak-semak, penggemburan tanah yang masih padat; pembuatan sengkedan dan pembuatan saluran pengeluaran air.
b. Pembentukan Sengkedan
Bagian tanah yang miring perlu disengked (dibuat teras). Lebar sengkedan tergantung dari derajat kemiringan lahan. Lambung sengkedan ditahan dengan rerumputan atau batu-batuan jika tersedia. Dianjurkan untuk menanam tanaman legum seperti lamtoro di batas sengkedan yang berfungsi sebagai penahan erosi, pemasuk unsur hara N dan juga penahan angin.
c. Pembuatan Saluran Pembuangan Air
Saluran ini harus dibuat pada lahan dengan kemiringan kecil dan tanah-tanah datar. Di atas landasan dan sisi saluran ditanam rumput untuk menghindari erosi dari landasan saluran itu sendiri.
4. Penanaman
Sebulan sebelum penanaman, dasar lubang kita timbun menggunakan tanah galian. Tanah galian lapisan bawah dimasukkan terlebih dahulu, kemudian tanah lapisan atas dicampur dengan pupuk kandang sebanyak 8-10 kg untuk setiap lubang berukuran 60x60x60 cm3 atau Ukuran lubang adalah 50 x 50 x 50 cm pada tanah berat dan 30 x 30 x 30 cm atau 40 x40 x 40 cm untuk tanah-tanah gembur. Jarak tanam 3 x 3 m untuk tanah sedang dan 3,3 x 3,3 m untuk tanah berat.
Langkah penanamannya adalah sebagai berikut :
a. Lubang tanam yang telah ditimbun kembali dengan tanah dicampur pupuk itu dikuak menggunakan cangkul dengan kedalaman sekitar 25 cm atau disesuaikan besar kecilnya bonggil bibit yang ditanam.
b. Bibit pisang dimasukkan kedalam kuakan tersebut. Perhatikan kedalaman kuakan. Diusahakan agar bonggolnya tertanam penuh, kira-kira 5 cm dibawah permukaan tanah.
c. Jika tanahnya terlalu kering, siramlah dengan iar secukupnya.
d. Usahakan bibit dalam keadaan tegak, kemudian tanah disekitar bibit dipadatkan dengan jalan diinjak-injak.
Penanamannya dapat dilakukan dengan dua cara. Cara pertama, seluruh bonggol ditanam didalam lubang yang telah dicampur pupuk kandang sebagai pupuk dasar. Setelah sekitar bulan, anakan yang tidak diperlukan segera diambil dingan hati-hatimenggunakan cangkul atau linggis agar tidak merusak bibit yang akan dipertahankan hidup. Cara kedua, yaitu dengan memotong-motong bonggol calon bibit. Potongan-potongan lalu disemaikan seperti tanah diuraikan pada cara pembibitan.
Penanaman dilakukan menjelang musim hujan (September-Oktober). Sebelum tanam lubang diberi pupuk organik seperti pupuk kandang/kompos sebanyak 15– 20 kg. Pemupukan organik sangat berpengaruh terhadap kualitas rasa buah.
5. Perawatan Tanaman Pisang
Tanaman pisang tergolong tanaman yang tidak manja. Artinya, tidak memerlukan perawatan khusus. Setiap induk pohon pisang, sebelum buahnya masak biasanya sudah mempunyai beberapa anakan. Kira-kira dua bulan setelah anakan pertama muncul, kemudian disusul anakan kedua, disusul lagi anakan ketiga, dan seterusnya sampai anakan-anakan itu berjejal.
Apabila rumpun pisang sudah berumur tahun, sebaiknya diremajakan kembali dengan jalan membongkar rumpun. Kemudian membuat lubang baru dan menanam ulang menggunakan bibit terpilih yang sehat dari rumpun lama.
Pelepah Pisang harus di bersihkan, Pelepah pisang dibagian bawah lama-lama akan menguning lalu kering. Agar tampak bersih dan tidak mengganggu anakan dibawahnya, daun-daun yang mongering itu perlu segera disingkirkan. Apabila bunga (jantung pisang) terserang ulat, tetapi tidak disemprot menggunakan insektisida, akibatnya kulit pisang itu nanti tidak mulus (berbintik-bintik hitam). Berikutnya jika jantung pisang dibawah buah terakhir tidak dipotong, akibatnya akan menghambat pertumbuhan buah.
6. Memanen Pohon Pisang
Dari segi umur, ada beberapa jenis pisang, buahnya dapat dipetik sekitar 10 sampai 11 bulan setelah ditanam menggunakan anakan berumur sekitar enam bulan. Tetapi ada juga jenis-jenis pisang, seperti ambon, baru dapat dipetik buahnya antara 13 sampai 14 bulan sesudah anakan yang berumur enam bulan ditanam.
Untuk mempercepat menguningnya buah dapat dipergunakan pengomposan dan peragian. Pengomposan dan peragian mengakibatkan pisang tidak tahan lama disimpan. Rasa dan aromanya sedikit berbeda disbanding pisang yang masak secara alami.
B. Keuntungan dalam berkebun pada pohon pisang jenis pipit dan kluthuk
Perhitungan Harga di Pasaran pada Pisang Pipit dan Pisang Kluthuk
Pada pohon Pisang Pipit, 1 Pohon Pisang bias menghasilkan 1 Punggul Pisang, Sedangkan 1 punggul Pohon Pisang menghasilkan sekitar 5 Lirang. Harga pada 1 Lirang adalah berkisar Rp. 6000, jadi 6000 X 5 adalah 30000. Itupun baru 1 Pohon. Dan Pohon Pisang yang telah di panen mayoritas terdapat anakan yang bisa di jadikan sebagai benih intuk penanaman kembali.
Pada Pohon Pisang Kluthuk Buahnya juga bermanfaat, tetapi yang paling dominant di gunakan adalah Daunnya. Daunnya bisa di gunakan sebagai wadah, di antaranya adalah makanan, di samping daunnya tebal, juga ada rasa yang berbeda saat menggunakannya di banding menggunakan yang lainnya.
Pohon Pisang berbuah sekitar 9-10 bulan, di kebun Milik Bapak Rasyidi terdapat kurang lebih 25 Pohon, 21 Pisang Pipit dan 4 Pisang Kluthuk. Sesudah hasil, tidak pasti untuk di jual, ada yang untuk di manfaatkan sendiri, bahkan mayoritas untuk di makan sekeluarga. Untuk itu tujuan untuk berkebun Pohon Pisang menurut Bapak Rasyidi di perkebunannya adalah jarang untuk di jual melainkan untuk menghibur bahkan mengisi waktu.
Adakalanya di jual. apabila waktu panen kira-kira dapat di hitung :
Setiap Punggul ada 5 Lirang Pisang, sedangkan perkebunannya ada 25 Pisang.
Pada Pisang Pipit :
5 X 25 =125
125 X 6000 =750000
3 lainnya adalah Pisang Kluthuk yang jarang di jual.
Hal tersebut sangat menguntungkan, di samping di buat hiburan juga menghasilkan nilai ekonomis, karena pembibitan Pohon Pisang tidak terlalu membutuhkan biaya yang begitu mahal, hanya menggunakan pembibitan anakan atau tunas-tunas yang di hasilkan oleh Pohon Pisang sebelumnya.
C. Kendala-kendala dalam berkebun pada pohon pisang jenis pipit dan kluthuk
Pisang tidak dapat berbuah dengan baik jika Pisang tersebut mengalami masalah, diantara masalah yang menyebabkan pisang tidak dapat berbuah dengan baik adalah hama dan penyakit pohon pisang.
Jenis dan penyakit yang sering menyerang pohon pisang, antara lain sebagai berikut :
1. Daun pisang
a. Ulat Daun (Erionota Thrax)
b. Uret dari Jenis Kumbang (Cosmopolites Sordidus)
2. Penyakit Tanaman Pisang
a. Penyakit Bintik Daun
b. Penyakit Cendawan oleh Cendawan Jenis Fusarium
c. Penyakit Layu
d. Penyakit Darah
Masalah yang lainnya yaitu apabila ada objek yang memanfaatkannya, antara lain adalah Tikus, codot dan lain-lain.
BAB IV
PENUTUP
A. Simpulan
Dikala zaman modernisasi saat ini, banyak orang yang beralih ke bidang Industri, di karenakan mendapatkan laba atau keuntungan yang bisa dibilang besar, padahal kalau di resapi, industri banyak nilai negatifnya yang dapat merugikan lingkungan hidup maupun kelangsungan hidup pada manusia. Ada usaha yang lebih menarik bersifat menghibur dan tidak begitu bahkan tidak merugikan lingkungan hidup, karena banyak sisi positifnya yaitu menanam dengan dengan usaha Perkebunan Pohon Pisang Jenis Pipit dan Kluthuk di Desa Wates Milik Bapak Rasyidi.
Berkebun dari kata Kebun, kebun merupakan suatu tempat atau lahan pada usaha perkebunan. Berkebun identik dengan kegiatan bertanam. Yaitu suatu kegiatan menanam suatu tanaman pada dataran tanah.
Pisang adalah tanaman buah berupa herba yang berasal dari kawasan di Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Tanaman ini kemudian menyebar ke Afrika (Madagaskar), Amerika Selatan dan Tengah. Di Jawa Barat, pisang disebut dengan Cau, di Jawa Tengah dan Jawa Timur dinamakan gedang. Tumbuhnya mayoritas di iklim yang tropis basah, masa panennya antara 9-10 bulan.
B. Saran
Karya Ilmiah yang berjudul ” keuntungan Usaha Perkebunan Pisang Pipit dan Pisang Kluthuk” masih banyak hal yang belum di bahas secara tuntas, . Oleh karena itu penulis berharap pada waktu yang akan datang penulis lain yang meneliti keuntungan Usaha Perkebunan Pisang Pipit dan Pisang Kluthuk.
Penulis berharap Karya Ilmiah ini dapat di manfaatkan oleh pembaca sebagai refrensi dalam memahami hal yang berkaitan dengan judul keuntungan Usaha Perkebunan Pisang Pipit dan Pisang Kluthuk.
Karya Ilmiah ini masih perlu di tindak lanjuti dan kemungkinan ada hal yang perlu di tambahkan atau di perbaiki, sehingga penulis berharap masukan, kritik, saran dari pembaca
DAFTAR PUSTAKA
http://geocities.com/pembibitan-pisang
http://goole//pisang-kluthuk
http://geocities.com/pipit-jenis pisang
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Dikala zaman modernisasi saat ini, banyak orang yang beralih ke bidang Industri, di karenakan mendapatkan laba atau keuntungan yang bisa dibilang besar, padahal kalau di resapi, industri banyak nilai negatifnya yang dapat merugikan lingkungan hidup maupun kelangsungan hidup pada manusia. Ada usaha yang lebih menarik bersifat menghibur dan tidak begitu bahkan tidak merugikan lingkungan hidup, karena banyak sisi positifnya yaitu menanam dengan dengan usaha Perkebunan Pohon Pisang Jenis Pipit dan Kluthuk..
Di katakan menghibur karena di samping bisa mengisi waktu, juga bisa mengingat pada zaman dulu, bagaimana rasanya mencangkul, dan berkeringat sampai menyerupai mandi. Dan dikatakan tidak merugikan lingkungan hidup, karena justru kita merawat lingkungan hidup, di mana kita melakukan penanaman yang baik bagi lingkungan hidup.
Berkebun identik dengan menanam, metode menanam itu cocok sekali dengan wilayah yang agraris, hal itu juga bermanfaat bagi manusia dan kalau bisa mengembangkan dan mengelola dengan baik bisa menghasilkan nilai ekonomis, meskipun tidak seberapa di banding pada bidang industri. Sehubung dengan hal tersebut, dalam hal ini akan dibahas tentang keuntungan Berkebun pada Pohon Pisang Jenis Pipit dan Kluthuk.
B. Perumusan Masalah
a. Bagaimana berkebun pada pohon pisang jenis pipit dan kluthuk yang benar?
b. Apakah keuntungan dalam berkebun pada pohon pisang jenis pipit dan kluthuk?
c. Apakah kendala-kendala dalam berkebun pada pohon pisang jenis pipit dan kluthuk?
C. Tujuan Penulisan
Penulisan karya ilmiah dengan judul “Keuntungan Berkebun pada Pohon Pisang Jenis Pipit dan Kluthuk” di susun dengan tujuan :
a. Menerapkan pengetahuan dan teori ekonomi pada jenis usaha Keuntungan Berkebun pada Pohon Pisang Jenis Pipit dan Kluthuk.
b. Untuk meningkatkan pemahaman penulis pada jenis usaha Keuntungan Berkebun pada Pohon Pisang Jenis Pipit dan Kluthuk.
c. Sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas Ilmu Pengetahuan Alam.
D. Metode Penelitian
Karya ilmiah yang berjudul “Keuntungan Berkebun pada Pohon Pisang Jenis Pipit” menggunakan metode penelitian model study pustaka dan pengamatan langsung pada obyek penelitian.
E. Sistematika
Karya ilmiah berjudul “Keuntungan Berkebun pada Pohon Pisang Jenis Pipit dan Kluthuk” menggunakan sistematika sebagai berikut.
BAB I Pendahuluan
a. Latar Belakang
b. Rumusan Masalah
c. Tujuan Penulisan
d. Metode Penulisan
e. Sistematika
BAB II Kajian Pustaka
a. Keuntungan
b. Berkebun
c. Pohon pisang jenis pipit
d. Pohon pisang jenis kluthuk
BAB III Keuntungan Berkebun pada Pohon Pisang Jenis Pipit dan Kluthuk
a. Cara berkebun pada pohon pisang jenis pipit dan kluthuk yang benar
b. keuntungan dalam berkebun pada pohon pisang jenis pipit dan kluthuk
c. kendala-kendala dalam berkebun pada pohon pisang jenis pipit dan kluthuk
BAB IV Penutup
a. Simpulan
b. Saran
BAB II
Kajian Pustaka
A. Keuntungan
Sesuatu keadaan yang telah digariskan oleh Tuhan Yang Mahakuasa bagi perjalanan hidup seseorang, mujur atau mendapat suatu laba. Untung biasanya apabila pendapatan lebih besar dari pengeluaran.
Apabila modal akhir terganti atau dapat di kembalikan ataupun dapat lebih dari modal awal pada suatu usaha yang di jalani, maka orang yang mengadakan usaha tersebut mendapat keuntungan.
Jadi dapat di simpulkan :
Hasil Akhir > Dari pada modal awal => Untung
B. Berkebun
Berkebun dari kata Kebun, kebun merupakan suatu tempat atau lahan pada usaha perkebunan. Berkebun identik dengan kegiatan bertanam. Yaitu suatu kegiatan menanam suatu tanaman pada dataran tanah.
C. Pohon Pisang Pipit
Pohon adalah batang, tumbuh-tumbuhan yang besar, sedangkan pisang adalah mempunyai arti suatu nama pohon dan sekaligus buahnya. dan Pipit merupakan nama pisangnya tersebut.
D. Pohon Pisang Kluthuk
Pohon adalah batang, tumbuh-tumbuhan yang besar, sedangkan pisang adalah mempunyai arti suatu nama pohon dan sekaligus buahnya. dan Kluthuk merupakan nama pisangnya tersebut.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Cara berkebun pada pohon pisang jenis pipit dan kluthuk yang benar
Sejarah singkatnya, Pisang adalah tanaman buah berupa herba yang berasal dari kawasan di Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Tanaman ini kemudian menyebar ke Afrika (Madagaskar), Amerika Selatan dan Tengah. Di Jawa Barat, pisang disebut dengan Cau, di Jawa Tengah dan Jawa Timur dinamakan gedang.
1. Syarat Tumbuh :
Iklim tropis basah, lembab dan panas mendukung pertumbuhan pisang. Namun demikian pisang masih dapat tumbuh di daerah subtropis. Pada kondisi tanpa air, pisang masih tetap tumbuh karena air disuplai dari batangnya yang berair tetapi produksinya tidak dapat diharapkan. Tanaman pisang dapat tumbuh subur di daerah yang mempunyai ketinggian tidak lebih dari 1000 meter diatas permukaan air laut. Tanah yang cocok adalah tanah kaya humus. Tetapi jika terpaksa dapat juga ditanam ditanah kapur. Sedangkan iklim yang paling cocok adalah iklim tropis. Tanaman pisang banyak memerlukan sinar matahari, namun tanaman pisang juga tidak tahan kekeringan. Sebaliknya, juga tidak tahan air yang berlebihan. Angin dengan kecepatan tinggi seperti angin kumbang dapat merusak daun dan mempengaruhi pertumbuhan tanaman.
2. Pembibitan
Untuk mendapat tanaman pisang yang sehat serta buahnya besar-besar, kita perlu mempersiapkan bibit secara cermat. Ciri-ciri bibit yang baik adalah tinggi anaknya sekitar satu sanpai satu setengah meter, berumur empat sampai enam bulan, diambil dari pohon yang telah atau sedang berbuah, daunnya tidak terlalu lebar, dan tidak terserang penyakit. Anakan yang tingginya kurang dari satu meter pun dapat dipergunakan sebagai bibit, tetapi mempunyai kelemahan, yakni terlalu lama berbuah.
Pisang diperbanyak dengan cara vegetatif berupa tunas-tunas (anakan).
a. Persyaratan Bibit
Tinggi anakan yang dijadikan bibit adalah 1-1,5 m dengan lebar potongan umbi 15-20 cm. Anakan diambil dari pohon yang berbuah baik dan sehat. Tinggi bibit akan berpengaruh terhadap produksi pisang (jumlah sisir dalam tiap tandan). Bibit anakan ada dua jenis, anakan muda dan dewasa. Anakan dewasa lebih baik digunakan karena sudah mempunyai bakal bunga dan persediaan makanan di dalam bonggol sudah banyak. Penggunaan bibit yang berbentuk tombak (daun masih berbentuk seperti pedang, helai daun sempit) lebih diutamakan daripada bibit dengan daun yang lebar.
b. Penyiapan Benih
Bibit dapat dibeli dari daerah/tempat lain atau disediakan di kebun sendiri. Tanaman untuk bibit ditanam dengan jarak tanam agak rapat sekitar 2 x 2 m. Satu pohon induk dibiarkan memiliki tunas antara 7-9. Untuk menghindari terlalu banyaknya jumlah tunas anakan, dilakukan pemotongan/penjarangan tunas.
3. Pengolahan Media Tanam
a. Pembukaan Lahan
Pemilihan lahan harus mempertimbangkan aspek iklim, prasarana ekonomi dan letak pasar/industri pengolahan pisang, juga harus diperhatikan segi keamanan sosial. Untuk membuka lahan perkebunan pisang, dilakukan pembasmian gulma, rumput atau semak-semak, penggemburan tanah yang masih padat; pembuatan sengkedan dan pembuatan saluran pengeluaran air.
b. Pembentukan Sengkedan
Bagian tanah yang miring perlu disengked (dibuat teras). Lebar sengkedan tergantung dari derajat kemiringan lahan. Lambung sengkedan ditahan dengan rerumputan atau batu-batuan jika tersedia. Dianjurkan untuk menanam tanaman legum seperti lamtoro di batas sengkedan yang berfungsi sebagai penahan erosi, pemasuk unsur hara N dan juga penahan angin.
c. Pembuatan Saluran Pembuangan Air
Saluran ini harus dibuat pada lahan dengan kemiringan kecil dan tanah-tanah datar. Di atas landasan dan sisi saluran ditanam rumput untuk menghindari erosi dari landasan saluran itu sendiri.
4. Penanaman
Sebulan sebelum penanaman, dasar lubang kita timbun menggunakan tanah galian. Tanah galian lapisan bawah dimasukkan terlebih dahulu, kemudian tanah lapisan atas dicampur dengan pupuk kandang sebanyak 8-10 kg untuk setiap lubang berukuran 60x60x60 cm3 atau Ukuran lubang adalah 50 x 50 x 50 cm pada tanah berat dan 30 x 30 x 30 cm atau 40 x40 x 40 cm untuk tanah-tanah gembur. Jarak tanam 3 x 3 m untuk tanah sedang dan 3,3 x 3,3 m untuk tanah berat.
Langkah penanamannya adalah sebagai berikut :
a. Lubang tanam yang telah ditimbun kembali dengan tanah dicampur pupuk itu dikuak menggunakan cangkul dengan kedalaman sekitar 25 cm atau disesuaikan besar kecilnya bonggil bibit yang ditanam.
b. Bibit pisang dimasukkan kedalam kuakan tersebut. Perhatikan kedalaman kuakan. Diusahakan agar bonggolnya tertanam penuh, kira-kira 5 cm dibawah permukaan tanah.
c. Jika tanahnya terlalu kering, siramlah dengan iar secukupnya.
d. Usahakan bibit dalam keadaan tegak, kemudian tanah disekitar bibit dipadatkan dengan jalan diinjak-injak.
Penanamannya dapat dilakukan dengan dua cara. Cara pertama, seluruh bonggol ditanam didalam lubang yang telah dicampur pupuk kandang sebagai pupuk dasar. Setelah sekitar bulan, anakan yang tidak diperlukan segera diambil dingan hati-hatimenggunakan cangkul atau linggis agar tidak merusak bibit yang akan dipertahankan hidup. Cara kedua, yaitu dengan memotong-motong bonggol calon bibit. Potongan-potongan lalu disemaikan seperti tanah diuraikan pada cara pembibitan.
Penanaman dilakukan menjelang musim hujan (September-Oktober). Sebelum tanam lubang diberi pupuk organik seperti pupuk kandang/kompos sebanyak 15– 20 kg. Pemupukan organik sangat berpengaruh terhadap kualitas rasa buah.
5. Perawatan Tanaman Pisang
Tanaman pisang tergolong tanaman yang tidak manja. Artinya, tidak memerlukan perawatan khusus. Setiap induk pohon pisang, sebelum buahnya masak biasanya sudah mempunyai beberapa anakan. Kira-kira dua bulan setelah anakan pertama muncul, kemudian disusul anakan kedua, disusul lagi anakan ketiga, dan seterusnya sampai anakan-anakan itu berjejal.
Apabila rumpun pisang sudah berumur tahun, sebaiknya diremajakan kembali dengan jalan membongkar rumpun. Kemudian membuat lubang baru dan menanam ulang menggunakan bibit terpilih yang sehat dari rumpun lama.
Pelepah Pisang harus di bersihkan, Pelepah pisang dibagian bawah lama-lama akan menguning lalu kering. Agar tampak bersih dan tidak mengganggu anakan dibawahnya, daun-daun yang mongering itu perlu segera disingkirkan. Apabila bunga (jantung pisang) terserang ulat, tetapi tidak disemprot menggunakan insektisida, akibatnya kulit pisang itu nanti tidak mulus (berbintik-bintik hitam). Berikutnya jika jantung pisang dibawah buah terakhir tidak dipotong, akibatnya akan menghambat pertumbuhan buah.
6. Memanen Pohon Pisang
Dari segi umur, ada beberapa jenis pisang, buahnya dapat dipetik sekitar 10 sampai 11 bulan setelah ditanam menggunakan anakan berumur sekitar enam bulan. Tetapi ada juga jenis-jenis pisang, seperti ambon, baru dapat dipetik buahnya antara 13 sampai 14 bulan sesudah anakan yang berumur enam bulan ditanam.
Untuk mempercepat menguningnya buah dapat dipergunakan pengomposan dan peragian. Pengomposan dan peragian mengakibatkan pisang tidak tahan lama disimpan. Rasa dan aromanya sedikit berbeda disbanding pisang yang masak secara alami.
B. Keuntungan dalam berkebun pada pohon pisang jenis pipit dan kluthuk
Perhitungan Harga di Pasaran pada Pisang Pipit dan Pisang Kluthuk
Pada pohon Pisang Pipit, 1 Pohon Pisang bias menghasilkan 1 Punggul Pisang, Sedangkan 1 punggul Pohon Pisang menghasilkan sekitar 5 Lirang. Harga pada 1 Lirang adalah berkisar Rp. 6000, jadi 6000 X 5 adalah 30000. Itupun baru 1 Pohon. Dan Pohon Pisang yang telah di panen mayoritas terdapat anakan yang bisa di jadikan sebagai benih intuk penanaman kembali.
Pada Pohon Pisang Kluthuk Buahnya juga bermanfaat, tetapi yang paling dominant di gunakan adalah Daunnya. Daunnya bisa di gunakan sebagai wadah, di antaranya adalah makanan, di samping daunnya tebal, juga ada rasa yang berbeda saat menggunakannya di banding menggunakan yang lainnya.
Pohon Pisang berbuah sekitar 9-10 bulan, di kebun Milik Bapak Rasyidi terdapat kurang lebih 25 Pohon, 21 Pisang Pipit dan 4 Pisang Kluthuk. Sesudah hasil, tidak pasti untuk di jual, ada yang untuk di manfaatkan sendiri, bahkan mayoritas untuk di makan sekeluarga. Untuk itu tujuan untuk berkebun Pohon Pisang menurut Bapak Rasyidi di perkebunannya adalah jarang untuk di jual melainkan untuk menghibur bahkan mengisi waktu.
Adakalanya di jual. apabila waktu panen kira-kira dapat di hitung :
Setiap Punggul ada 5 Lirang Pisang, sedangkan perkebunannya ada 25 Pisang.
Pada Pisang Pipit :
5 X 25 =125
125 X 6000 =750000
3 lainnya adalah Pisang Kluthuk yang jarang di jual.
Hal tersebut sangat menguntungkan, di samping di buat hiburan juga menghasilkan nilai ekonomis, karena pembibitan Pohon Pisang tidak terlalu membutuhkan biaya yang begitu mahal, hanya menggunakan pembibitan anakan atau tunas-tunas yang di hasilkan oleh Pohon Pisang sebelumnya.
C. Kendala-kendala dalam berkebun pada pohon pisang jenis pipit dan kluthuk
Pisang tidak dapat berbuah dengan baik jika Pisang tersebut mengalami masalah, diantara masalah yang menyebabkan pisang tidak dapat berbuah dengan baik adalah hama dan penyakit pohon pisang.
Jenis dan penyakit yang sering menyerang pohon pisang, antara lain sebagai berikut :
1. Daun pisang
a. Ulat Daun (Erionota Thrax)
b. Uret dari Jenis Kumbang (Cosmopolites Sordidus)
2. Penyakit Tanaman Pisang
a. Penyakit Bintik Daun
b. Penyakit Cendawan oleh Cendawan Jenis Fusarium
c. Penyakit Layu
d. Penyakit Darah
Masalah yang lainnya yaitu apabila ada objek yang memanfaatkannya, antara lain adalah Tikus, codot dan lain-lain.
BAB IV
PENUTUP
A. Simpulan
Dikala zaman modernisasi saat ini, banyak orang yang beralih ke bidang Industri, di karenakan mendapatkan laba atau keuntungan yang bisa dibilang besar, padahal kalau di resapi, industri banyak nilai negatifnya yang dapat merugikan lingkungan hidup maupun kelangsungan hidup pada manusia. Ada usaha yang lebih menarik bersifat menghibur dan tidak begitu bahkan tidak merugikan lingkungan hidup, karena banyak sisi positifnya yaitu menanam dengan dengan usaha Perkebunan Pohon Pisang Jenis Pipit dan Kluthuk di Desa Wates Milik Bapak Rasyidi.
Berkebun dari kata Kebun, kebun merupakan suatu tempat atau lahan pada usaha perkebunan. Berkebun identik dengan kegiatan bertanam. Yaitu suatu kegiatan menanam suatu tanaman pada dataran tanah.
Pisang adalah tanaman buah berupa herba yang berasal dari kawasan di Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Tanaman ini kemudian menyebar ke Afrika (Madagaskar), Amerika Selatan dan Tengah. Di Jawa Barat, pisang disebut dengan Cau, di Jawa Tengah dan Jawa Timur dinamakan gedang. Tumbuhnya mayoritas di iklim yang tropis basah, masa panennya antara 9-10 bulan.
B. Saran
Karya Ilmiah yang berjudul ” keuntungan Usaha Perkebunan Pisang Pipit dan Pisang Kluthuk” masih banyak hal yang belum di bahas secara tuntas, . Oleh karena itu penulis berharap pada waktu yang akan datang penulis lain yang meneliti keuntungan Usaha Perkebunan Pisang Pipit dan Pisang Kluthuk.
Penulis berharap Karya Ilmiah ini dapat di manfaatkan oleh pembaca sebagai refrensi dalam memahami hal yang berkaitan dengan judul keuntungan Usaha Perkebunan Pisang Pipit dan Pisang Kluthuk.
Karya Ilmiah ini masih perlu di tindak lanjuti dan kemungkinan ada hal yang perlu di tambahkan atau di perbaiki, sehingga penulis berharap masukan, kritik, saran dari pembaca
DAFTAR PUSTAKA
http://geocities.com/pembibitan-pisang
http://goole//pisang-kluthuk
http://geocities.com/pipit-jenis pisang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar